Vaksin Rabies – Sejarah dan Riwayat Penyakit Rabies

Sunday, June 29th 2014. | Artikel Terbaru, Penyakit Rabies, Vaksin Rabies

Sejarah dan Riwayat Penyakit Rabies

 

Anjing berpenyakit rabies Google  Free Image

Anjing berpenyakit rabies
Google Free Image

Penyakit Rabies atau lebih dikenal sebagai penyakit anjing gila oleh kaum orang awam, adalah penyakit yang ditularkan oleh karena gigitan binatang berpenyakit rabies dan oleh air liur anjing atau binatang yang terinfeksi dengan virus rabies dan menderita penyakit ini.

Virus rabies ini terdapat dalam air liur binatang yang sakit ini, dan sewaktu menggigit korbannya, maka virus rabies ini terbawa oleh air liur masuk kedalam luka gigitan.

Dalam tubuh korban, virus rabies ini akan berkembang biak dan menjalar mengikuti jalan persarafan untuk menuju ke otak, yang merupakan pusat susunan saraf makhluk hidup. Akibat infeksi virus rabies pada sistim susunan saraf pusat, akan timbul gejalah khas dan spesifik penyakit rabies ini.

Sudah diketahui bahwa waktu dari sejak tergigit oleh binatang sakit rabies hingga timbulnya penyakit rabies pada korbannya adalah tergantung jarak luka gigitan dengan susunan saraf pusat atau otak si korban. Ambil contoh pada manusia, bila luka gigitan ada di kakinya, maka waktu untuk timbulnya gejalah penyakit rabies adalah lebih lama daripada jika luka gigitan ada didaerah lengan atau leher atau dimuka, karena jaraknya yang lebih dekat ke otak.

Demikian juga waktu ini akan lebih cepat jika korban gigitan ini adalah anak kecil daripada orang dewasa, karema adanya perbedaan tinggi badan atau jarak luka gigitan dengan susunan saraf pusat otak korban..

Dan semua korban yang telah memperlihatkan gejalah spesifik penyakit rabies ini pasti akan meninggal dunia. Angka kematian penyakit rabies ini adalah 100%.

 

Introduksi Penyakit Rabies

Tidak ada suara yang lebih menakutkan daripada lolongan anjing yang sakit rabies. Suara ini telah menakutkan manusia sejak dahulu kala. Ketakutan ini karena penyakit ini bisa ditularkan ke manusia oleh binatang sakit dan perjalanan penyakitnya sangat menyakitkan dan manakutkan, karena orang yang menderita sakit ini akan tersiksa oleh rasa haus yang sangat dan pada waktu yang sama dia juga sangat takut dengan air (hidrophobia).

Sipenderita rabies ini memberikan gambaran orang yang tidak waras yang disebabkan beberapa gambaran klinik penyakit rabies yang diakibatkan oleh infeksi otak (ensefalitis) dan diselingi masa dimana dia juga tampak normal saja, sehingga penyakit rabies ini diberi nama, dalam semua bahasa manusia, dengan konotasi arti gila.

Penyakit ini telah dikenal pada 3000 tahun Sebelum Masehi dalam catatan bangsa India yang menggambarkan dewa kematian dalam bentuk anjing. Juga ditemukan catatan tentang penyakit ini dalam Code Eshmuna zaman Babylonia pada 2300 tahun Sebelum Masehi. Pada abad 1 Setelah Masehi, Celcius memberi nama “hidrofobia” untuk menggambarkan gejalah utama rabies yang takut akan air.

Bangsa Junani memberi nama penyakit rabies Lyssa atau Lytta yang berarti kegilaan. Dalam bahasa Latin, yang diambil dari bahasa Sansekerta rabhas, yang berarti melakukan kekerasan. Bahasa Prancis robere yang juga berarti kegilaan.

Virus rabies ini bisa menyebabkan radang otak ensefalitis pada hampir semua binatang makhluk mamalia, termasuk manusia. Dengan kematian korban penyakit rabies ini, tetapi virus penyebabnya tidak mati atau hilang, tetapi melalui air liur korbannya bisa tetap menular kedalam tubuh makhluk mamalia yang lain, sehingga lingaran penularan antara korban dan calon korban penyait rabies ini tetap utuh terjaga.

Sampai saat ini, belum ada satu jenis pengobatan apapun yang berhasil mengobati dan menyembuhkan korban penderita penyakit rabies ini, oleh karena itu program pencegahan penyakit rabies dan pengawasan binatang piaraan rumah adalah sangat penting untuk mencegah penyakit ini dan tidak memberi kemungkinan terjadinya endemik disuatu daerah atau area.

 

Di Indonesia:

Penyakit rabies pertama dilaporkan dan tercatat di propinsi Jawa Barat pada tahun 1889, sepuluh tahun lebih awal sebelum ditemukannya cara mendiagnosa penyakit rabies dengan menemukan badan Niger dengan mikroskope. Penyakit ini menyebar ke kepulauan Indonesia dan menginfeksi 20 propinsi dari 27 propinsi yang ada pada tahun 1983.

Anjing peliharaan dan anjing liar menjadi reservoir penyakit ini. Sedangkan rabies dari binatang liar sejauh ini hanya pada musang yang ditemukan di Jawa Barat tahun 1958 dan pada rusa di Kalimantan Selatan pada tahun 1983.

Rabies selama ini menjadi endemik didaerah Nusa Tenggara, Sumatra Barat, baru pada tahun 2009 menjadi epidemik di Bali yang mempunyai riwayat bebas rabies sejak zaman kolonial Belanda.

 

Data Epidemiologi Penyakit Rabies

Penyakit rabies adalah terutama penyakit yang menyerang makhluk dan binatang yang berdarah panas, korbannya bisa mulai dari binatang kecil seperti tikus hingga binatang besar seperti gajah.

Di negara berkembang seperti Indonesia, maka rabies karena binatang anjing dan kucing adalah masalah kesehatan yang perlu diperhatikan. Dibeberapa negara lain, mungkin binatang rakun, tupai, kelelawar dan rubah adalah penyebar virus penyakit rabies ini.

 

Virologi Virus Rabies

Virus Rabies  Google free image

Virus Rabies
Google free image

Virus Rabies masuk dalam keluarga Rhabdoviridae

Virus dari keluarga Rhabdoviridea ini terdiri dari banyak jenis dan macamnya, semua jenis binatang bertulang belakang (vertebrata) juga yag tidak bertulang belakang (invertebrata) juga tanaman bisa menjadi tempat berkembang biaknya virus ini.

Morfologi bentuk virus rabies ini seperti bentuk peluru, yang berbentuk bulat diujung yang satu dan mendatar pada ujung yang lain, karena angka kematian yang 100% pada korban, maka virus rabies dijuluki “the bullet that never missed” atau “peluru yang tidak pernah meleset” !

 

Patogenesis Penyakit Rabies 

Bila dibandingkan dengan binatang mamalia yang lain, maka manusia adalah kurang sensitif terhadap penularan virus rabies. Terjadinya penyakit rabies pada manusia masih tergantung pada beberapa hal, mialnya:

  • keganasan jenis virus rabies (ada beberapa jenis virus rabies dialam),
  • jumlah virus yang ditularkan dalam gigitan (virus load) dan
  • lokasi tempat gigitan, seperti yang telah diterangkan diatas. Gigitan pada daerah muka mempunyai angka indeks kontaminasi yang hampir 100%, jika dibandingkan dengan gigitan dilokasi lain tubuh.

Setelah digigit oleh binatang yang sakit rabies, maka virus yang bersifat neurotropik ini akan menyebar terutama melalui aliran limpa, juga merambat melalui perjalanan saraf,  untuk mencapai susunan saraf pusat yaitu otak kita.

Gerakan virus dari saraf tepi sampai ke saraf pusat dengan cara transportasi pasif, dan angka rata rata kecepatan gerakan virus ini telah diukur,  yaitu sekitar 3 mm / jam.  Didalam otak akan terjadi replikasi dan pertumbuhan virus yang sangat cepat.

Gejalah penyakit rabies adalah tergantung bagian otak mana yang terkena infeksi. Dari otak, virus rabies akan menyebar ke sistim dan jaringan saraf sekitar muka, mata, rongga mulut, rongga hidung dan juga ke kelenjar liur yang banyak mengandung persarafan sensorik ini.

Replikasi virus juga terjadi didalam kelenjar liur dan virus rabies akan dikeluarkan bersama air liur.

Setiap cakaran dan gigitan binatang, juga luka kulit yang telah ada sebelumnya, bisa menualrkan virus rabies kedalam tubuh kita. Penularan melalui selaput lendir dan selaput lendir saluran pernafasan bisa saja terjadi, meskipun jarang.

Penularan penyakit rabies antara manusia : Pernah dilaporkan kasus penularan penyakit rabies dengan transplantasi kornea dari donor yang menderita rabies yang tidak terdiagnosa sebelumnya.

 

Gambaran Klinik Penyakit Rabies

Penyakit Rabies tidak sulit di diagnosa, disebabkan karena gejalah penyakit yang sangat khas dan adanya cerita tergigit dengan hewan yang sakit rabies sebelumnya.

Namun ada kalanya diagnosa menjadi sulit karena penderita atau keluarganya sudah tidak ingat lagi kapan atau bagaimana terjadi kontak dengan hewan atau luka kecil yang terjadi ditubuhnya dan cara penularannya.

Dan sementara itu, gejalah awal penyakit juga mirip dengan gejalah awal penyakit polio atau radang selaput otak, yang disebabkan oleh jenis virus yang lain.

Masa inkubasi penyakit rabies pada manusia, rata rata adalah 30 – 90 hari lamanya. Masa ini menjadi lebih singkat bila lokasi gigitan terletak dekat otak.

Dari mulai timbulnya gejalah hingga penderita menjadi koma dan meninggal berlangsung sekitar 3 – 7 hari saja.

Pada waktu sakit, penderita menjadi agresif, mudah terangsang oleh cahaya dan takut (suara) air (hidrophobia), dan terjadi kejang hebat.

Kematian penyakit rabies adalah akibat kelumpuhan otot saluran pernafasan,  sementara penderitanya masih tetap sadar.

Masa inkubasi penyakit rabies pada anjing adalah dari 10 hari hingga 2 bulan lamanya, atau bahkan lebih lama.

Pada masa awal penyakit, anjing akan memperlihatkan tingkah laku yang tidak seperti biasanya, suka bersembunyi ditempat yang gelap, memperlihatkan tingkah laku gelisah dan agresif. Karena kesulitan menelan, maka anjing akan tampak air liurnya meleleh.  Binatang ini menjadi berbahaya dan sangat menular pada saat 2 -3 hari sebelum timbulnya gejalah hingga maksimum 10 hari sebelum kematiannya.

 

Pengobatan Penyakit Rabies

Sampai saat ini belum ada pengobatan yang efektif untuk mengatasi penyakit rabies ini.

Yang dapat dilakukan adalah pengobatan intensif terhadap gejalah penyakit rabies saja, dan menghindarkan rangsangan luar seperti cahaya, suara gaduh dan hal lain yang dapat menimbulkan kejang hebat pada penderita.

Juga diberikan obat relaksassi untuk kejang otot dan infus cairan dan elektrolit, untuk mencegah terjadi dehidrasi, karena penderita tidak dapat minum.

Angka kematian penyakit rabies adalah hampir 100% bila pasien telah memperlihatkan gejala khas penyakit rabies seperti yang diuraikan diatas.

Sehingga yang terbaik adalah pemberian vaksinasi rabies untuk mencegah penyakit ini bila suatu saat tergigit oleh anjing atau binatang yang sakit rabies.

 

Vaccine Saves Lives !

 

 

 

 

 

 

tags: , , , , , , , ,

Related For Vaksin Rabies – Sejarah dan Riwayat Penyakit Rabies