Tinjauan penggunaan Thimerosal dalam vaksin (Bagian Pertama)

Tinjauan penggunaan Thimerosal dalam vaksin

Thimerosal atau Thiomersal adalah derivate organo mercury dari ethylmercury yang pertama kali dipergunakan oleh perusahaan Eli Lily, sebuah perusahaan besar pembuat vaksin yang ada di Eropa pada tahun 1930an dan semenjak itu zat ini telah banyak dipergunakan sebagai preservative dalam berbagai macam vaksin hingga saat ini.

Tujuan pemakai zat Thimerosal ini adalah untuk:
mencegah pertumbuhan bakteri pathogen ataupun jamur yang barbahaya bila vaksin tersebut telah mengalami pencemaran atau kontaminasi, misalnya sewaktu dalam proses pembuatan vaksin, pemakaian vaksin sewaktu dilakukan vaksinasi maupun dalam tahap penyimpanan bahan baku vaksin.

Juga dalam beberapa proses produksi vaksin, misalnya vaksin pertusis sel utuh (whole cell), zat Thimerosal dipergunakan untuk menginaktifkan /mematikan kuman (antigen vaksin) selain hal ini juga dapat dilakukan dengan cara pemanasan (Guideline on regulatory…)

Zat Thimerosal yang terkandung dalam vaksin sebenarnya sudah memenuhi persyaratan sebagai bahan preservative yang dicantumkan dalam United States Pharmacopeia (2004), yaitu pada konsentrasi 0,001 % (1 bagian dalam 100,000) hingga 0,01 % (1 bagian dalam 10,000), efektif membersihkan broad spectrum microorganism yang pathogen.

Vaksin yang mengandung 0,01 % preservative Thimerosal mengandung 50 µg Thimerosal per 0,5 mL dosis atau sekitar 25 µg mercury per 0,5 mL dosis.

Dari sifat Thimerosal yang bakteriostatik dan fungistatik, maka penghilangan Thimerosal, baik pengurangan jumlah atau mengganti Thimerosal dengan zat lain yang bersifat sama dalam vaksin yang telah terdaftar, adalah hal yang tidak mudah dilakukan, karena semua segi yang menyangkut sterilitas vaksin, stabilitas vaksin juga efikasi atau efektifitas vaksin dan kualitas vaksin harus dikaji ulang dengan penelitian laboratorium dan uji klinik lapangan yang intensif dan teliti dan mahal.

Sudah banyak data pre klinik pada beberapa jenis binatang dan manusia, tentang keamanan dan efektifitas Thimerosal yang dipergunakan sebagai preservative ( Powell and Jamieson 1931), semenjak itu Thimerosal juga telah diteliti dengan seksama dan tercatat keamanan dan efektifitas Thimerosal yang dipergunakan untuk mencegah kontaminasi bakteri dan jamur pada vaksin tanpa menimbulkan efek yang berbahaya selain beberapa reaksi lokal pada tempat suntikan, seperti rasa nyeri ditempat suntikan, kemerahan, gatal dan lainnya, yang biasanya akan hilang sendiri dalam waktu satu hingga beberapa hari kemudian.

Sebaliknya methylmercury, suatu logam berat, adalah neurotoksin. Sifat racun methylmercury pertama kali diketahui pada akhir tahun 1950 dan awal tahun 1960an, ketika limbah industri yang mengandung mercury dibuang kedalam perairan teluk Minamata di Jepang, yang menimbulkan kontaminasi mercury pada ikan yang dikonsumsi oleh penduduk sekitarnya (Harada 1995).

Epidemik keracunan mercury juga terjadi di Irak sekitar 1970an, ketika insektisida pembasmi hama yang mengandung methylmercury secara keliriu dipergunakan untuk membasmi hama pada gandum dan gandum tersebut dipergunakan untuk membuat roti. (Bakir et al 1973).

Sepanjang episode epidemik tersebut diatas, diketahui bahwa janin lebih rentan terhadap efek methylmercury daripada orang dewasa. Pemaparan dosis tinggi methylmercury pada ibu hamil menyebabkan kerusakan neurology / saraf yang serius pada janin, seperti misalnya gejalah mirip cerebral palsy, sedangkan pada ibunya hanya terlihat sedikit atau tidak tampak sama sekali gejalah kelainan.

Disfungsi / gangguan fungsi motorik dan sensorik dan keterlambatan perkembangan fungsi neurologik, adalah gangguan dan kecacatan  yang paling sering ditemukan pada janin yang sedang tumbuh kembang dalam rahim ibunya yang terpapar dosis rendah methylmercury.

Issue kontroversial tentang kandungan Thimerosal dalam vaksin pertama kali dikemukakan pada tahun 1998 oleh Dr. Andrew Wakefield dkk, yang mempublikasikan hasil temuan mereka tentang anak yang menderita autisme setelah 1 bulan mendapatkan vaksin MMR (vaksin campak, campak Jerman dan gondong) yang mengandung Thimerosal sebagai zat preservativenya.

Tetapi pada tahun 1999, Dr. Brent Taylor dkk juga melakukan empat kali penelitian di Inggris untuk membuktikan hubungan kausal / sebab akibat antara Thimerosal dengan autisme, hasil temuan mereka adalah bahwa kejadian autisme dengan vaksinasi yang mengandung Thimerosal adalah tidak berdasar.

Hal ini diperkuat lagi oleh penelitian Dr. Nathalie Smith yang menemukan bahwa peningkatan jumlah anak yang mengalami kelainan autisme adalah tidak sebanding dengan jumlah anak yang telah diberikan vaksinasi MMR, hasil penelitian ini telah dipublikasikan di British Medical Journal

Setelah itu juga dilakukan penelitian skala besar yang meliputi 537,000 anak di Denmark yang telah diberikan vaksinasi MMR ataupun yang tidak, pengamatan selama 6 tahun, hasil temuannya juga mencengangkan, yaitu bahwa jumlah anak yang menderita kelainan autisme adalah sama antara kelompok yang dapat vaksinasi dan kelompok yang tidak mendapat vaksinasi.

Temuan ini juga telah dipublikasikan dalam New England Medical Journal, November 2002.

Vaccine Saves Lives !

tags: , , , , , ,

Related For Tinjauan penggunaan Thimerosal dalam vaksin (Bagian Pertama)