Tinjauan penggunaan Thimerosal dalam vaksin (Bagian Kedua)

Penelitian Penyebab Autisme.

Dari penelitian macam macam penyebab autisme, ditemukan faktor genetik memegang peranan cukup penting selain faktor eksogen seperti pemaparan dengan zat kimia mercury dan obat obatan thalidomide yang populer pada tahun 1960an.

Dari segi genetik, bila kita memakai definisi autisme yang ketat, maka bila ditemukan satu anak menderita autisme pada kembar identik, maka sekitar 60 % kembar identik dan 0 % fraternal twin akan menderita kelainan autisme.

Bila kita menggunakan definisi autisme yang lebih longgar « autism spectrum disorder », maka akan didapatkan 92 % kembar identik dan 10 % fraternal twin yang akan menderita autisme.

Sehingga ditarik kesimpulan bahwa autisme mempunyai dasar genetik pada anak-anak yang menderita kelainan  tersebut.

Dari rekaman video ulang tahun pertama seorang anak, sering kali bisa terlihat gejala gejala awal dari gangguan neurologik yang sudah terjadi jauh sebelum anak tersebut terpapar dengan zat Thimerosal yang berasal dari vaksin. Hal ini bisa diterangkan bahwa perkembangan organ otak dan saraf adalah pada 24 hari pertama masa pertumbuhan janin dalam kandungan ibunya. Sehingga dengan rekaman video ulang tahun seoramg bayi, maka kita sudah bisa memperkirakan apakah anak ini akan menderita kelaian neurologik (autisme) dikemudian hari. (Vaccine concerns)

Beberapa peneliti juga menganalisa video bayi sejak berusia 2 – 3 bulan kehidupan bayi, dengan tehnik analisa gerakan yang canggih, maka bayi yang nanti akan mengalami kelainan autisme sudah bisa diperkirakan dari rekaman gambar video bayi tersebut pada awal kehidupannya.

Dengan menganalisa rekaman video pada awal kehidupan anak anak, para pakar dapat membedakan dengan tepat mana anak yang mempunyai kelainan autisme dan mana anak yang akan tumbuh normal.

Penemuan diatas memberi bukti hipotesa yang mengatakan bahwa gejala paling awal dan remeh dari autisme telah mulai timbul sejak dini kehidupan bayi dan membantah penyebab autisme adalah karena vaksin, karena vaksinasi (vaksin mengandung thimerosal)  baru mulai diberikan sejak bayi berusia 2 bulan keatas, apalagi vaksin MMR baru diberikan setelah bayi berusia 9 bulan atau lebih. 

Juga beberapa zat toksin atau infeksi virus, dan beberapa kelainan perkembangan sistim saraf pusat yang memberikan dampak autisme, memperkuat fakta bahwa autisme telah berkembang sejak dini sewaktu janin masih dalam kandungan ibunya.

Misalnya janin yang terpapar dengan obat Thalidomide pada trimester pertama atau kedua, janin dengan cacat perkembangan organ telinga dan janin yang menderita sindroma kongenital rubella, akan mempunyai peluang yang lebih besar untuk mengalami kelainan autisme setelah lahir.

Akhir akhir ini kecemasan tentang segi keamanan pemakaian Thimerosal dalam vaksin, terutama untuk vaksin yang diberikan bagi bayi dan anak anak, ini karena adanya data-data toksisitas akibat pemaparan khronik methylmercuri dibahan makanan.

Hal ini telah menimbulkan insiatif beberapa negara untuk menghilangkan, mengurangi jumlah atau mengganti zat Thimerosal dengan zat lain didalam vaksin, baik sediaan dosis ganda (multi dose vaccine) ataupun sediaan dosis tunggal.

Reaksi imunitas yang terjadi karena paparan dengan produk mengandung mercury umumnya terjadi pada manusia berupa reaksi alergi hipersensitivitas jenis lambat, namun hal ini bukan penyebab utama timbulnya pertanyaan tentang keamanan vaksin dengan kandungan Thimerosal dan timbulnya gagasan untuk mengganti zat Thimerosal dalam vaksin dengan zat lain yang dianggap lebih aman.

Dari apa yang telah dikemukakan diatas, jelas bahwa kekuatiran tentang toksisitas zat Thimerosal sebetulnya bersifat teoritis saja karena hingga saat ini tidak didapatkan fakta ilmiah yang berkaitan dengan segi keamanan Thimerosal yang digunakan dalam vaksin, meskipun dibeberapa negara tanggapan publik pernah dilaporkan dalam media.

Kebijaksanaan WHO terhadap masalah ini telah ditetapkan dengan jelas bahwa WHO akan tetap merekomendasikan program vaksinasi dunia dengan vaksin yang mengandung zat Thimerosal karena manfaat vaksinasinya melebihi tosisitas teoritis. (Vaccine concerns…)  

Namun semenjak timbulnya issue keamanan vaksin yang mengandung Thimerosal sebagai preservative, sudah banyak pembuat vaksin yang mulai menghilangkan, mengurangi jumlah hingga sangat minimal (trace amount) atau bahkan menggantikan Thimerosal dengan zat preservative lain yang sama baiknya, hanya seperti dikemukakan pada awal, bahwa hal ini memang tidaklah mudah, sehingga sampai saat ini masih cukup banyak vaksin untuk anak-anak yang masih mengandung Thimerosal sebagai preservative, meskipun dalam jumlah yang sangat minimum (trace amount).

Berhubung tidak adanya penuntun tentang kadar pemaparan ethylmercury (metabolit Thimerosal), maka US Environmental Protection Agency (Mahaffey et al 1997), US Agency for Toxic Substances and Disease Registry (ATSDR 1999), US FDA (Federal Register 1979) dan WHO (WHO 1996) menetapkan rentang dosis paparan adalah antara  0.1 µg / kg  Berat badan / hari (EPA)  hingga 0.47 µg / kg Berat badan / hari (WHO).

Mengacu pada penuntun dosis paparan ini, maka pembuat vaksin yang masih harus memakai Thimerosal sebagai preservative akan membuat vaksin dengan kandungan Thimerosal dengan rentang kandungan yang sesuai dengan penuntun ini.

Contoh vaksin yang masih harus memakai Thimerosal sesuai dengan penuntun ini adalah vaksin Hepatitis B (Korea LG Life Science) yang setiap 0.5 mL vaksinnya mengandung jumlah minimal (trace amount)  Thimerosal sejumlah 0.01 µg, yang bila dihitung akan didapatkan angka mutlak yang jauh lebih kecil berdasarkan rentang dosis paparan anjuran EPA dan WHO, sedangkan mekanisme metabolisme Thimerosal menjadi ethylmercury adalah cukup cepat melalui usus (feces) sehingga kadar kandungan ethylmercury dalam darah bayi tidak pernah melewati ambang kritis.

Dengan demikian vaksin Hepatitis B tersebut adalah tetap cukup aman untuk dipakai sebagai sarana vaksinasi anti hepatitis B, karena:

  1. Kandungan Thimerosal dalam vaksin tersebut dalam jumlah minimum (trace amount) yang cukup efektif sebagai preservative, mencegah akibat buruk bila seandainya telah terjadi kontaminasi dengan bakteri atupun jamur
  2. Dalam setiap 0.5 mL vaksin Hepatitis B (Euvax B, LG Life Science Korea) hanya mengandung 0.01 µg Thimerosal sebagai preservative, yang jumlahnya masih didalam batas rentang aman kandungan mercury untuk diberikan kepada bayi dan anak-anak.

Suatu saat dimasa depan, semua vaksin akan dibuat dengan tanpa menggunakan preservative Thimerosal, karena sampai saat ini, para ilmuwan masih harus mencari zat preservative yang sama baiknya dengan Thimerosal untuk mencegah akibat buruk bila terjadi kontaminasi vaksin dengan bakteri ataupun jamur, juga menjaga sterilitas fasilitas produksi vaksin, menjaga mutu, stabilitas dan efeikasi vaksin yang dihasilkan untuk menjamin  kesehatan dan keamanan bayi dan anak-anak yang diberikan vaksinasi.

 

Referensi:

  1. 4MyChild: Help and Hope for Life “Autism – What causes autism?”
  2. 4MyChild: Help and Hope for Life “How is Autism Diagnosed? “
  3. 4MyChild: Help and Hope for Life “What Research is being done ?”
  4. 4MyChild:Help amd Hope for Life “What is Thimerosal ?”
  5. Annex 4 Guideline on Regulatory expectations related to the elimination, reduction or replacement of thiomersal in vaccines.  WHO Technical Report Series, No. 926, 2004
  6. Thiomersal in Vaccines Frequently Asked Questions. FDA/CBER, updated on June 19, 2007
  7. Thiomersal in Vaccines Frequently Asked Questions. FDA/CBER, updated on June 7, 2007
  8. Book:”Vaccines: What You Should Know” 3rd edition. Paul A Offit, MD and Louis M. Bell. MD 2003. www.immunize.org
  9. “Thimerosal Exposure in Infants and Developmental Disorders: A Retrospective Cohort Study in the United Kingdom  Does not Support a Causal Association”                                     PEDIATRICS Vol. 114 No. 3 september 2004, pp 584 – 591.  Nick Andrews, MSc, Elizabeth Miller, MBBS, FRCPath, FFPHM, Andrew Grant, PhD, Julia Stowe, BA, Velda Osborne, BSc and Brent Taylor, PhD, MBCHB
  10.  “Thimerosal Exposure in Infants and Developmental Disorders: A Prospective Cohort Study in the United Kingdom  Does not Support a Causal Association”  , Jean Golding, DSc and the ALSPAC Study Team.                                                                     PEDIATRICS Vol. 114 No. 3 September 2004, pp 577 – 583    Jon Heron, PhD   

 

 

 

Vaccine Saves Lives !

tags: , , , , , , , ,

Related For Tinjauan penggunaan Thimerosal dalam vaksin (Bagian Kedua)