Tanya Jawab Tentang Vaksin Dan Vaksinasi – September 2014

Tanya Jawab Tentang Vaksin Dan Vaksinasi – September 2014

Seperti halaman Tanya Jawab Vaksin dan Vaksinasi sebelumnya yang terdapat dalam website ini, karena setiap bulan pertanyaan semakin banyak, maka untuk memudahkan Pembaca mencari apa yang diinginkan, maka mulai sekarang, semua pertanyaan dan jawaban yang ada dalam satu bulan akan dirangkum dalam bulan yang bersangkutan, sesuai dengan topik vaksin yang ditanyakan.

Semoga dengan cara demikian, akan memudahkan Para Pembaca mencari dan membaca pertanyaan dan jawaban yang di-inginkan.

Salam,

Dr. Leo Kurniawan (leokurniawandr@gmail.com)

Catatan: Agar supaya pertanyaan Anda tentang vaksin dan masalahnya bisa terjawab dengan tuntas dan jelas,   kami  sarankan Anda mengirimkan pertanyaan dengan email yang ditujukan ke alamat email kami diatas

 Tanya Jawab Untuk Vaksin dan Masalah Vaksinasi (google Free Image)

Tanya Jawab Untuk Vaksin dan Masalah Vaksinasi (Google Free Imagee) 

—————————————————————————————————————————————————–

Pertanyaan Tentang Vaksin Hepatitis B dan Vaksin Infuenza

  • Selamat siang dokter ! Saya mau menanyakan imunisasi hepatitis, dimana ada kekeliruan pemberian dosis. Pasien dewasa diberi dosis anak. Apa saran dr, leo untuk pemberian imunisasi hepatitis B yang ke 3.
    Juga untuk pemberian imunisasi influenza s,terus terang saya agak trauma dok, Tiga kali kasus saya berikan vaksinasi influenza untuk anak difabel (CP dan Mongoloid)  anak umur2,5 tahun ternyata reaksi malah anak sakit flu sampai opname.Rekomendasi CDC anak dengan gangguan pengeluaran sekret diberikan vaksin flu dan PCV.. Terimakasih banyak

Jawab:

Dear dr. xxx,

Untuk vaksinasi Hepatitis B yang terdiri 3 dosis dengan interval 0, 1 dan 6 bulan itu, kalau kita missed disalah satu jadwal, misalnya pada bulan yang 0, kita beri dosis < dosis dewasa, maka kita tinggal teruskan pada dosis ke 2 dan ke 3 dengan dosis dewasa yang semestinya diberikan.

Tapi dari cerita dokter, apakah dosis ke 1 dan ke 2 juga keliru memberi dosis anak ? Kalau begitu dosis ke 3 itu jangan salah lagi, harus berikan dosis dewasa dan kalau mau, bisa mengulang 1 dosis dewasa lagi setelah selang waktu 4 – 6 minggu setelah dosis ke 3 yang terakhir ini. Hitung2 anggap saja sebagai booster, yang sebetulnya tidak diperlukan bila semua 3 dosis itu diberikan dengan benar.

Soal vaksin flu, saya yakin yang dokter pakai itu adalah vaksin mati influenza, bukan yang jenis virus hidup seperti Flu Mist itu. Jadi sebenarnya vaksin ini tidak akan mungkin menyebabkan pennyakit influenza yang disebabkan oleh virus influenza bersangkutan.

Tetapi dari data klinik juga banyak virus lain dan bakteri lain yang bisa menginfeksi upper respiratory tract kita dan memberikan gejalah yang mirip penyakit influenza. Tapi kalau kita teliti maka gejalahnya beda dengan penyakit influenza karena virus influenza yang sebenarnya yang terkandung dalam antigen vaksin. Dan biasanya durasi dan severity sakitnya jauh lebih singkat dan ringan bila dibanding mereka tidak terproteksi dengan vaksin flu yang diberikan sebelumnya.

Terangkan saja ke orang tua anak supaya mereka bisa mengerti kenapa stelah vaksinasi flu koq bisa sakit flu lagi ?

Demikian saran saya, semoga bermanfaat.

Pertanyaan Tentang Jadwal Vaksin Rotavirus dan Vaksin PCV (Pneumonia Conjugate Vaccine)

  • Saya mau tanya bayi saya belum pernah diberi vaksin rotavirus,,skrg umurny 24 minggu,Apa masih bs diberi vaksin rotavirus?
    Lalu apakah vaksin PCV diberikan umur 25 minggu tdk apa2 ??
    Selain DPT adakan vaksin lainnya yg memiliki ‘2 versi’ pembuatanny : ‘bersinggungan dg enzim babi’ dan ‘tidak bersinggungan dg enzim babi’ ??

Jawab:

Untuk Jadwal Vaksinasi Vaksin Rotavirus

Ada 2 macam vaksin rotavirus dengan jumlah dosis dan jadwal yang berbeda satu dari yang lain.

Vaksin RotaRiq trdiri 3 dosis dengan jadwal dosis pertama pada waktu bayi berusia 2 bulan, lalu dosis ke 2 pada waktu berusia 4 bulan dan dosis terakhir sewaktu usia 6 bulan.

Vaksin Rotatex terdiri 2 dosis dengan jadwal pemberian dosis 1 pada waktu berusia 2 bulan, dan dosis ke2 atau yang terakhir usia 4 bulan.

Jadwal Vaksinasi Untuk RotaRiq dan Rotatex :

Usia minimal bayi untuk dosis pertama adalah waktu berusia 6 minggu

Usia maksimal untuk dosis pertama adalah waktu berusia 14 minggu + 6 hari

Usia maksimal untuk dosis terakhir adalah waktu berusia 8 bulan + 0 hari.

Minimal interval antara dosis vaksin adalah 4 minggu

Berdasarkan keterangan diatas, tiggal anda cocokkan saja dengan usia bayi anda sendiri.

Bisa lihat di website ini supaya lebih jelas :  http://selukbelukvaksin.com/vaksin-rotavirus-jenis-vaksin-rotavirus-dan-jadwal-imunisasi/

Untuk vaksin PCV :

Vaksin ini juga terdiri 3 dosis yang diberikan waktu bayi mulai berusia 2 bulan (dosis ke 1), usia 4 bulan (dosis ke 2) dan usia 6 bulan (dosis ke 3). Masih diberikan dosis ke 4 sebagai booster waktu bayi telah berusia 12 – 15 bulan.

Kalau bayi telah berusia 7 bulan hingga 11 bulan : maka kita hanya berikan 2 dosis PCV vaksin ini, dengan jarak interval 6 – 8 minggu antara dosis yang pertama dan dosis yang ke 2.  Dosis booster kita berika waktu bayi berusia 12- 15 bulan.

Jika bayi telah berusia 24 bulan hingga 59 bulan baru dapat vaksin PCV ini, maka kita hanya memberikan 1 dosis saja sudah cukup tanpa booster lagi.

Jadi silahkan cari kriteria yang cocok untuk bayi anda.

Sedangkan untuk pertanyaan terakhir anda, maaf saya tidak mengerti apa yang anda maksudkan.

Sekian dan terima kasih.

Pertanyaan Haram dan Halalnya Vaksin

  • Terima kasih yg tak terkira atas penjelasannya dok,,
    maksud prtanyaan sy yg trakhir : sbg contoh Merek vaksin DPT kan ad 2 versi : 1. yg tidak bersinggungan dg enzim babi = Infanrix atau Infanrix Hib…. Dan 2.Yang bersinggungan = Infanrix Hib IPV,  dan Pediacel… Adakah vaksin lain yg sperti itu trdpt 2 versi ??? Terimakasih byk sblmny dok

Jawab:

Dalam proses pembuatan vaksin, terutama yang vaksin jenis virus, maka diperlukan enzym Tripsine sebagai salah satu bahan dasar pembuatan antigen vaksin virus.

Dahulu, ilmuwan memakai enzym Tripsine dari sapi. Tetapi sejak merebaknya penyakit Sapi Gila atau Mad Cow Diseases yang juga sangat berbahaya pada manusia, maka ilmwan mengganti pemakaian enzym tripsine ini dari sapi ke babi, karena ternyata enzym dari babi ini yang juga sangat cocok untuk dipergunakan. (seperti cerita obat hormon Insuline babi pada tahun awal 1970an).

Tetapi begitu mendekati proses akhir pembuatan vaksin virus ini, maka enzym tripsine ini harus dibersihkan hingga tidak ada sisa sedikitpun pada antigen vaksin, ini yang disebut proses pemurnian antigen (purification). Prosesembersihan ini berulang kali dengan tehnologi tinggi.

Sampai ditahap ini, menurut beberapa Ulama Besar dari Mesir, Arab Saudi, Kuwait, Iran juga dari Indonesia, maka produk vaksin ini sudah boleh dianggap SUDAH MURNI atau HALAL untuk dipergunakan oleh Umat Islam. Apalagi dasarnya Vaksin ini, juga sama dengan obat, dipergunakan untuk mempertahankan kelangsungan hidup umat manusia, termasuk Umat Muslim.

Sehingga pemakaian vaksin bisa  dibenarkan dan dianggap HALAL. Contoh konkrit vaksin meningitis yang dalam proses pembuatan juga sama persis dengan yang saya sebutkan diatas, dibenarkan pemakaiannya oleh Kerajaan Saudi Arabia, juga pemerintah Indonesia dan negara Islam yang lain, untuk kaum Muslim yang akan menunaikan ibadah haji. Vaksin meningitis, vaksin Influenza dan vaksin polio (IPV yang ibu sebutkan itu) WAJIB  dipergunakna untuk jemaah yang naik haji.

Saya tidak ingat ada berapa macam atau jumlah vaksin yang dalam proses pembuatan memakai enzym tripsine ini, kita harus membuka dosier dokumen masing2 vaksin dari semua pabrik pembuat vaksin, untuk memilah mana vaksin yang memakai tripsine atau tidak memakai tripsine.

Sekarang tergantung ibu sendiri yang memutuskan, apakah akan memakai vaksin tertentu yang sangat perlu untuk mencegah penyakit menular bayi atau kita biarkan bayi kita terpapar dengan bahaya penyakit infeksi itu dengan segala akibat dan konsekuensinya, termasuk cacat seumur hidup (polio) atau sampai meninggal (DTP, DTP-IPV-Hib,dll).

Demikian keterangan saya tentang masalah halal atau haram nya vaksin yang juga beredar di Indonesia. Pilihan ada ditangan kita sendiri.

Salam dan semoga bermanfaat bagi Ibu dan juga orang lain yang ikut membaca ini.

Wassalam,

Dr. Leo Kurniawan

www.selukbelukvaksin.com

 

 

  • Terima kasih byk sebelumnya dok,,oh iya dok klo liat di grup gesamun Vaksin Meningitis bagi jama’ah haji dan umrah menurut Fatwa MUI thn 2010 bahwa vaksin MencevaxTM ACW 135Y itu haram, untuk Menveo itu halal, maka jika sudah ada yang halal dari perusahaan produksi vaksin meningitis di Menveo meningococal dan meningococcal, maka gunakan yang halal. Sehingga, fatwa thn 2009 sudah dicabut yang mengatakan boleh menggunakan vaksin meningitis haram karena darurat. Karena sudah ada meningitis yang halal, maka dicabutlah fatwa thn 2009, diganti dengan 2010 yang mengatakan vaksin meningitis yang halal dari produk Menveo.Oh iya ddaerah sy ad anggapan bahwa imunisasi di puskesmas kabupaten lbh bagus dbanding yg di praktek2 dr karena vaksinny lbh segar dan memang lebih byk masyarakat dsni yg imunisasi dsana apakah bs seperti itu dok?

 

Jawab:

 

Seperti yang ibu paparkan bahwa untuk vaksin meningitis yang diwajibkan untuk jemaah haji, memang saat ini telah ada vaksin meningitis yang halal dalam proses pembuatannya, maka mulai saat ini kita bisa memakai vaksin yang kita yakini halal ini.

Sedangkan masalah apakah vaksin di Puskesmas “lebih bagus atau lebih seger” (saya pinjam istilah ibu ya) bila dibandingkan yang ada di praktek dokter, jawabanya adalah :

Di puskesmas tersedia vaksin2 dasar anjuran DepKes RI atau pemerintah, seperti vaksin BCG, DTP, vaksin campak, vaksin kombinasi DTP Hib Hep B, karena disubsidi oleh DepKes atau pemerintah, maka vaksin2 dasar ini adalah gratis.

Di praktek pribadi dokter, juga tersedia vaksin2 dasar ini, selain itu juga tersedia vaksin anjuran lain yang diperlukan oleh bayi dan anak kita, misalnya, vaksin HPV, vaksin PCV, vaksin meningitis, vaksin MMR varicella dll, yang tidak tersedia di Puskesmas. Dan karena ini adalah praktek pribadi, sehingga kita yang harus membiayai vaksinasi anjuran ini.

Soal “lebih bagus atau lebih seger” vaksin adalah sama saja di Puskesmas dan tempat praktek pribadi dokter, tidak ada pebedaan sama sekali.

Salam,

Dr. Leo Kurniawan

www.selukbelukvaksin.com

 

Pertanyaan Jadwal Vaksinasi Human Papilloma Virus (HPV)

 

  • Malam dokter, sy ss.
    Dokter sy mau tanya, bulan september tgl 24 besuk kan sy harus imunisasi gardasil yang kedua seandainya sy mundur di oktober tanggal 24 apa sy harus mengulang pertama kali atau.bisa dilanjutkan? Mohon pejelasannya dok. Terimakasih banyak

 

Jawab:

Karena saya tidak tahu anda mendapatkan vaksin HPV dosis pertamanya kapan, jadi saya ambil contoh patokan berikut ini, nanti tinggal mbak yang mencocokkan interval waktu antara vaksin HPV dosis yang pertama dengan dosis yang kedua, dan interval waktu dosis ketiga dengan dosis yang kedua sebagai berikut:

Immunisasi yang lengkap untuk vaksinasi HPV (Human Papilloma Virus) adalah terdiri dari 3 dosis.

Setelah pemberian dosis yang pertama, maka interval waktu pemberian untuk dosis yang kedua adalah 4 hingga 8 minggu dari dosis yang pertama (mbak tinggal cocokkan kapan dosis pertamanya ya). Dan minimum jangka waktu antara dosis pertama dan dosis kedua adalah 4 minggu.

Sedangkan dosis ketiga HPV ini baru akan kita berikan dengan interval waktu 24 minggu atau 6 bulan kemudian dari dosis pertama atau 16 minggu setelah dosis yang kedua. Atau minimum interval antara dosis kedua dan dosis ketiga adalah 12 minggu.

Demikian jadwal dan interval waktu untuk imunisasi vaksin HPV yang dianjurkkan oleh US CDC. Mbak Siti bisa lihat lengkap di website saya ini :  http://selukbelukvaksin.com/jadwal-imunisasi-orang-dewasa-versi-us-cdc/

Atau bisa mbak Siti coba cocokan dengan jadwal imunisasi dewasa dari PAPDI (Persatuan Ahli Penyakit Dalam Indonesia ) tentang imunisasi vaksin HPV untuk orang dewasa di website saya ini : http://selukbelukvaksin.com/jadwal-imunisasi-dewasa-2013/

Kalau terjadi keterlambatan yang tidak terlalu lama dari interval waktu yang dianjurkan diatas, maka mbak tinggal teruskan saja pemberian vaksin HPV yang tertinggal itu tanpa perlu mengulang seluruh proses vaksinasi dari awal dosis pertama lagi.

Semoga penjelasan ini berguna.

Salam,

Dr. Leo Kurniawan

 

 

Pertanyaan Tentang Vaksinasi Influenza, Hubungan Penyakit Influenza dengan Penyakit Asma dan Kekuatiran Menjadi Sakit Setelah Divaksinasi

 

  • Dokter leo, maaf mengganggu waktu dokter. Saya mau bertanya tentang vaksinasi influenza dok. Saya penderita asma dan ketiga anak sy jg penderita asma. Umur mereka 14 thn, 12 thn dan 8,5 thn. Setiap serangan asma yang dialami anak2 sy, selalu dipicu oleh virus influenza. Dalam setahun mereka flu sebanyak 4-6 kali, dimana setiap flu berlanjut kpd serangan asma yang parah. Sekitar 2 bulan yang lalu, saya berkonsultasi dengan klinik spesialis asma online dan disarankan utk vaksinasi influenza, tetapi ketika saya konsultasikan dengan dokter spesialis anak yang biasa memeriksa anak2 saya ketika mereka sakit, beliau bilang bahwa kalau anak saya divaksin flu, maka mereka akan benar2 sakit. Saya jadi bingung dok, sehingga sampai sekarang anak2 saya belum divaksin flu krn sy khawatir kalau divaksin flu mereka akan benar2 sakit. Apakah benar demikian dok? Jika divaksin flu, anak2 saya akan benar2 sakit? Dan apa saran dokter leo terhadap permasalahan saya ini? Di satu sisi, saya ingin anak2 sy divaksin flu agar mereka tidak sering terkena flu krn flu mereka selalu berlanjut pada serangan asma yang parah. Tetapi di sisi lain, saya takut jika mereka divaksin flu, mereka akan benar2 sakit yang harus sampai diopname. Mohon saran dan penjelasan dokter leo. Terima kasih banyak.

 

Jawab:

Saya bersimpati dengan kondisi kesehatan ibu dan ketiga putra ibu yang menderita asma ini.

Apa yang dianjurkan oleh klinik asma online itu sudah tepat dan benar, karena hal ini bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

Dan justru apa yang dikatakan oleh DSA itu salah.
Tidak ada orang yang divaksin dengan vaksin influenza akan menjadi sakit influenza.

Karena vaksin yang dipergunakan adalah vaksin influenza yang telah dimatikan virus influenzanya atau yang telah dilemahkan virusnya, sehingga yang terjadi adalah vaksin tersebut akan menyebabkan tubuh kita memproduksi antibody untuk melawan virus influenza yang menyerang tubuh kita.

Yang bisa terjadi, namun jarang, adalah efek samping setelah suntik vaksin influenza, yang juga bisa terjadi dengan vaksin jenis yang lain. Efek samping itu antara lain adalah nyeri ditempat suntikan, kadang2 demam ringan, dll yang dikenal sebagai kejadian ikutan pasca imunisasi atau KIPI.

Dengan vaksinasi influenza pada penderita asma seperti putra2 ibu dan ibu sendiri, justru akan memproteksi orang tersebut dari serangan asma, karena influenza pada penderita asma adalah pencetus serangan asma itu sendiri.

Dengan vaksinasi influenza, maka akan mengurangi frekuensi serangan asma, mengurangi frekuensi kunjungan ruang emergensi rumah sakit untuk perawatan akibat serangan akut asma, dan mengurangi pemakaian obbat2 antibiotika dan obat2 asma yang lain, seperti steroid yang juga berefek buruk pada tubuh bila dipakai terlalu sering dan dalam jangka waktu yang lama.

Untuk membuktikan apa yang saya sebutkan diatas, saya lampirkan literature dari US CDC (mirip dengan DepKes RI kita) yang bisa ibu baca dan simak dengan teliti.   http://www.cdc.gov/flu/asthma/

Ibu juga bisa baca diwebsite saya tentang vaksin influenza http://selukbelukvaksin.com/category/vaksin-dan-kesehatan-preventiif/vaksin-influenza-vaksin-dan-kesehatan-preventiif/page/5/

Saran saya adalah segera ibu dan putra2 ibu diberikan vaksinasi influenza, dan imunisasi ini harus diulang pada tahun depan pada waktu yang kira2 sama seperti vaksinasi tahun ini.

Masih ada catatan dari saya, bahwa meskipun telah diberikan vaksinasi influenza, kita masih mungkin terserang oleh virus atau bakteri lain yang tidak tercakup dalam antigen vaksin influenza ini, sehingga kita masih bisa seolah2 sakit flu.
Namun biasanya ini berlangsung lebih singkat dan jauh lebih ringan dibandingkan dengan sakit influenza yang disebabkan oleh virus influenza yang sebenarnya.

Jadi setelah mendapatkan imunisasi vaksin influenza, kita tetap harus menjaga kesehatan kita dengan cara pola hidup yang sehat, beroahraga yang cukup, menjamin asupan gizi yang baik. Dan jauhi orang yang sedang sakit flu dan memakai masker bia kita sedang menderita batuk pilek, agar tidak menular kepada orang lain dilingkungan hidup kita.

Demikian penjelasan saya untuk masalah yang ibu kuatirkan. Semoga bermanfaat.

Bila ada hal yang masih diragukan, ibu bisa menghubungi saya kembali setiap saat.

Salam,

Dr. Leo Kurniawan

www.selukbelukvaksin.com

  • Yang Terhormat Dokter Leo Kurniawan….Terima kasih banyak atas penjelasan dokter untuk pertanyaan saya. Tetapi saya masih perlu bertanya lagi dok, masih ada kekhawatiran yang semoga bisa dihilangkan dengan penjelasan dokter selanjutnya. Begini dok, dokter leo memberi catatan : “Kita masih mungkin terserang oleh virus/bakteri lain yang tidak tercakup dalam antigen vaksin influenza, sehingga masih bisa seolah-olah sakit flu. Namun biasanya ini berlangsung lebih singkat dan jauh lebih ringan dibandingkan dengan sakit flu yang disebabkan oleh virus flu yang sebenarnya”. Tetapi saya membaca pertanyaan dari seorang dokter di artikel tanya jawab dokter leo bulan september 2014, dimana sang dokter mengalami 3 kali kasus yaitu memberi vaksinasi flu yang mana reaksi pasien/anak malah sakit flu sampai opname. Yang menjadi pertanyaan pertama saya adalah:  Mengapa seorang anak bisa sakit yang mirip flu (seolah-olah sakit flu) sampai opname setelah mendapat vaksinasi influenza? Padahal sebagaimana yang dijelaskan dokter leo, kalaupun anak terserang sakit yang mirip sakit flu, ini akan berlangsung lebih singkat dan lebih ringan, tetapi kalau si anak sampai diopname, bukankah berarti sakitnya tidak ringan dok? Mengapa hal ini bisa terjadi ya dok? Hal-hal apa sajakah yang bisa menyebabkan seorang anak sakit, yang harus sampai diopname, setelah divaksin flu? Pertanyaan kedua: Upaya-upaya apa saja yang bisa saya lakukan menjelang dan setelah putra-putri saya divaksin flu, agar mereka tidak sakit setelah divaksin flu? Lebih-lebih lagi sakit yang sampai diopname, tentu saja saya sangat tidak menginginkan hal itu terjadi. Demikian dok pertanyaan saya. Mohon penjelasan dokter leo.Terima kasih banyak atas kesediaan dokter menjawab pertanyaan kami para netter.
Jawab:
Kalau ibu baca dengan teliti pertanyaan dokter dalam kolom tanya jawab vaksin dengan saya itu, adalah dokter itu mengalami 3 kali kejadian anak yang setelah divaksinasi menderita sakit yang sampai harus dirawat nginap dirumah sakit. Anak2 yang disebut dokter itu adalah adalah anak2 yang menderita kelainan fisik atau kelainan genetik, yaitu menderita CP atau Cerebral Palsy dan menderita kelainan Mongoloid, jadi bukan anak yang normal sehat seperti umumnya.

Dalam bidang kedokteran, kita mengenal adalah golongan pasien high risk atau resiko tinggi, demikian juga di bidang vaksinasi, kita mengenal pasien yang high risk atau juga low risk. Yang tergolong orang high risk atau resiko tinggi adalah mereka yang :

  1. Usia lanjut juga bayi premature
  2. Berpenyakit khronis serius seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung dan paru (sakit asma, tbc dan COPD), penyakit ginjal dan liver
  3. Mereka yang mengalami kelainan sistim imunologi seperti pasien penderita HIV AIDs, atau mereka yang mendapatkan pengobatan obat steroid jangka panjang
  4. Wanita hamil dan menyusui
  5. Termasuk anak atau bayi yang lahir dengan kelainan atau cacat fisik dan mental tadi…

Dikatakan high risk karena bila mereka terinfeksi dengan penyakit yang pada orang normal atau yang low risk, mungkin tidak akan menyebabkan apa2 atau hanya sakit ringan saja, tapi pada golongan high risk ini bisa menjadi hal yang serius bahkan sampai kematian. Contoh yang ibu Endang pasti familiar adalah anak ibu yang menderita asma, bila terkena influenza kan sampai harus dirawat dirumah sakit, padahal untuk teman2 nya yang tidak sakit asma, sakit influenza buat mereka adalah hal yang biasa2 saja.

Sehingga atas dasar pertimbangan untuk :

– Mencegah golongan high risk menderita sakit yang serius karena infeksi penyakit2 yang bisa kita cegah dengan vaksinasi

– Mengurangi angka kesakitan dan angka kunjungan rumah sakit dan angka perawatan dirumah sakit buat golongan high risk

– Menjaga kualitas hidup yang baik untuk golongan pasien high risk

– Demi efisiensi ekonomi dan sumber daya juga waktu (konsumsi obat, biaya perawatan rumah sakit, dll)

– Mencegah resiko yang lebih serius bahkan kematian, dari penyakit khronis yag sudah diderita oleh pasien tersebut

Maka diputuskan harus memberikan vaksinasi pencegah untuk golongan pasien beresiko tinggi ini. http://selukbelukvaksin.com/manfaat-vaksin-dan-vaksinasi-bagi-bayi-anak-orang-dewasa-dan-usia-lanjut/

Dalam hal penyakit influenza atau yang oleh kaum awam disebut sakit pilek atau flu, banyak jenis virus lain selain virus influenza yang dapat menyebabkan infeksi saluran nafas atas dan menimbulkan gejalah yang mirip  dengan sakit influenza yang disebabkan oleh virus influenza, hanya saja gejalah lebih ringan dan lama sakitnya lebih singkat daripada sakit influenza yang sebenarnya. Demikian juga infeksi bakteri dapat menyebabkan gejalah yang mirip influenza, yang sulit dibedakan oleh orang awam.

Vaksin influenza yang dipakai adalah vaksin yang antigen virusnya telah dimatikan (inactivated vaccine), jadi TIDAK MUNGKIN vaksinasi influenza ini menyebabkan sakit pada penerima vaksin ini.

Bila terjadi hal demikian (seperti yang ditanyakan dokter dalam konsultasi saya itu), mungkin sekali ini hal yang kebetulan saja, tapi penyebabnya pasti bukan virus influenza yang kita ingin cegah dalam vaksinasi influenza yang kita berikan sebelumnya.

Hal yang ibu harus lakukan sebelum berikan vaksinasi (vaksinasi jenis apapun), adalah pastikan bahwa sipenerima vaksin harus dalam kondisi sehat, tidak sedang sakit yang sedang atau bahkan sakit berat. Detailnya bisa ibu baca di website ini http://selukbelukvaksin.com/kipi-vaksin-apa-yang-harus-anda-lakukan/

Demikian keterangan saya dan semoga bermanfaat.

Salam,

Dr. Leo Kurniawan

www.selukbelukvaksin.com

 

 

 

Pertanyaan Infeksi Kutil Kelamin dan Hepatitis B Untuk Calon Pengantin

 

Selamat Siang Dr. Leo,

Perkenalkan nama saya: x y ; umur: 41 thn. Calon istri saya umur: 38 thn.Kami akan menikah minggu depan. Selama ini saya mengidap penyakit hepatitis B dan penyakit kutil kelamin.Saya ingin menanyakan vaksin apa saja yg hrs kami jalani. U/ penyakit kutil kelamin itu byk tipenya.Kalau calon istri saya di vaksin HPV yang jenis mana? GARDASIL atau CERVARIX.Apa sudah aman?U/ pengobatan kutil kelamin saya apa yg harus saya lakukan? Apa saya harus di vaksin HPV juga?Berhubung saya sudah terkena kutil kelamin apa saya masih bisa memperoleh keturunan lagi.

 

Jawab:

 

Untuk Pertanyaan anda tentang Hepatitis B :

Karena pernah ada pertanyaan yang mirip sebelumnya, maka saya kopi pas saja jawaban saya waktu itu, kira2 seperti ini :

http://selukbelukvaksin.com/tanya-jawab-tentang-vaksin-dan-vaksinasi-august-2014/

Saran saya adalah :
  • Sebaiknya anda berobat lebih dahulu, karena sekarang ada obat2an yang dipergunakan untuk mengobati penyakit hepatitis B ini, syukur sembuh dan sehat kembali
  • Sebaiknya calon istri anda segera diperiksa juga apakah sehat atau telah tertular virus hepatitis B juga ? Dan bila iya, maka segera juga diberikan pengobatan yang sesuai
  • Bila sehat, maka calon istri anda segera saja diberikan vaksinasi untuk anti hepatitis B agar supaya menjadi kebal terhadap virus hepatitis B dan terhindar dari penyakit ini.
  • Penularan hepatitis B adalah melalui darah, juga cairan tubuh seperti sperma dan cairan vagina. Jadi selama anda dalam pengobatan, hubungan kelamin sebaiknya dilakukan dengan pengaman kondom. Jangan melakukan oral sex.

 

Tentang  Kutil Kelamin :

Lalu untuk penyakit Kutil Alat Kelamin atau populer dikenal kondiloma akuminata yang disebabkan oleh virus HPV.

Detailnya bisa anda baca di : http://penyakitkelamin.info/kutil-kelamin/ . Termasuk pengobatan dan cara pencegahannya.
Kita memberikan vaksinasi HPV (Gardasil atau Cervarix) pada mereka yang belum terinfeksi virus HPV, dengan kata lain untuk mereka yang belum aktif secara seksual.
Tidak ada satupun vaksin yang bisa memproteksi diri kita hingga 100% aman, selalu ada sekian % yang tetap bisa tertular dengan penyakit yang ingin kita cegah.
Sehingga setelah kita diberikan vaksinasi, kita tetap harus menjaga pola hidup yang sehat, asupan gizi yang sehat dan berolahraga juga istirahat yang cukup.
Di website http://selukbelukvaksin.com/vaksin-human-papilloma-virus/ , anda bisa membaca lengkap tentang vaksin HPV ini (Gardasil ataupun Cervarix, lengkap dengan dosis dan jadwalpemberian vaksinasinya)
Demikian ketrangan saya untuk pertanyaan anda. Semoga bermanfaat untuk anda dan istri.
Salam
Dr. Leo Kurniawan
www.selukbelukvaksin.com

 

 

Pertanyaan Jadwal Vaksinasi Untuk Bayi Lahir Premature

 

  • Maaf sebelumnya. saya mau nanya dokter Leo Kurniawan, kalau untuk bayi prematur, apakah jadwal imunisasinya berdasarkan usia koreksi atau kronologis? terima kasih sebelumnya (dikutip dari GESAMUN

 

Jawab:

Maaf baru bisa balas sekarang ini … seperti yang saya tuliskan dalam website saya http://selukbelukvaksin.com/jadwal-dan-jenis-vaksin…/ tentang keperluan bayi premature untuk mendapatkan vaksinasi layaknya bayi yang lahir aterm atau cukup bulan, maka saat ini patokan adalah bayi premature bisa kita berikan vaksin dengan jadwal dan dosis yang sama dengan bayi lahir normal. Kecuali untk bayi premature yang berat badannya sangat rendah, maka kita baru akan menunda pemberian vaksinasi setelah berat badannya meningkat. Ibu bisa baca detail ini di website tersebut diatas.

Vaccine Saves Lives !

tags: , , , , , , , , ,

Related For Tanya Jawab Tentang Vaksin Dan Vaksinasi – September 2014