Difteri Toxoid – Seluk Beluk dan Perkembangannya

Vaksin Difteri Toksoid  untuk Penyakit Difteri

Menifestasi klinik Penyakit Difteri:

Ini adalah penyakit saluran nafas atas yang sanagt menular, yag disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae, kuman yang bersifat Gram positif. Manusia adalah satu-satunya penjamu bagi kuman difetri ini.

Penyakit difteri ditandai dengan gejalah klinik yang tidak terlalu khas, hanya ada demam yang tidak terlalu tinggi, dan gejalah yang lain baru akan menyusul  beberapa hari kemudian. Infeksi kuman difteri bisa dalam bentuk infeksi kulit, infeksi vagina, infeksi selaput lendir mata konjungtiva dan infeksi di telinga.

Gejalah yang serius berupa pembengkakan sekitar leher “bull neck” seperti leher lembu yang disertai terbentuknya selaput tipis warna abu-abu (pseudomembrane) yang akan menutupi saluran jalan pernafasan, sehingga terjadi sesak nafas.

Gejalah khas penyakit ini adalah reaksi inflamsi selaput lendir saluran nafas atas, yang meliputi daerah faring dan seringkali juga bagian belakang saluran hidung, larings dan saluran nafas trakhea. Terbentuknya selaput berwarna abu-abu (pseudomembrane) didaerah nasofaring sehingga akan menutup saluran pernafasan, yang bisa menyebabkan sesak nafas dan meninggal karena kekurangan oksigen.

pseudomembrane diphtheriae

pseudomembrane diphtheriae
Source: Google free image

Komplikasi lain adalah terjadinya kerusakan organ vital lainnya karena racun eksotoksin yang dilepaskan oleh kuman ini akan menyebar dan terserap sampai ke otot jantung, sistim persarafan dan ginjal, sehingga terjadi kerusakan pada organ vital tersebut dan menyebabkan kematian.

Dalam sejarah, penyakit difteri telah pernah dicatat oleh Hipocrates pada abad ke 5 sebelum masehi, juga pada tahun 1500 sebelum masehi di Mesir.

Epidemiologi

Manusia adalah satu-satunya penjamu bagi kuman C diphtheriae ini, bisa menyebar dengan cara droplet infection atau melalui percikan ludah sewaktu berbicara, mencium,  atau kontak langsung dengan luka di kulit yang mengandung kuman ini.

Masa inkubasi kuman antara 2 hingga 7 hari atau bisa lebih lama, kemudian terjadi gejalah penyakit difteri ini.

Pada mereka yang tidak diobati, maka kuman ini bisa ditemukan antara 2 hingga 6 minggu setelah terjadi infeksi, kuman bisa ditemukan di hidung, tenggorokan, di mata dan luka di kulit.

Penularan kuman juga bisa terjadi dari mereka yang baru kembali dari daerah endemik penyakit difteri, misalnya turis yang pulang ke nagaranya dan menginfeksi orang dilingkungannya, karena kontak langsung dengan cara-cara yang disebutkan diatas tadi.

Penyakit difteri dalam bentuk manifestasi yang berat biasanya terjadi pada mereka yang tidak kebal, yaitu mereka yang memang belum di imunisasi terhadap penyakit difteri, atau yang mendapatkan imunisasi terhadap difteri yang tidak lengkap. Sedangkan bagi mereka yang telah kebal, biasanya hanya menderita gejalah ringan, seperti nyeri tenggorokan yang ringan hingga sedang atau menjadi pembawa kuman yang tanpa gejalah (asymptomatic carrier)

Komplikasi Penyakit Difteri

Hal utama dalam hal komplikasi adalah pengaruh toksin yang dikeluarkkan oleh kuman difteri, yang berpengaruh terhadap penyakit yang telah ada, dan juga terhadap organ tubuh vital lainnya. Kematian umumnya karena efek racun ini terhadap organ vital seperti jantung dan saraf.

Bahaya yang langsung adalah adanya pseudomembran atau selaput yang akan menutupi jalan nafas bagian atas, sehingga menyebabkan penderitanya menjadi sesak, tidak bisa bernafas, menjadi warna biru atau cyanosis, satu-satunya cara untuk mengatasi bahaya ini adalah dengan membuat trakheotomi, yaitu dengan melobangi leher bagian depan hingga ke tenggorokan kemudian dipasang pipa untuk menyalurkan oksigen ke paru-paru, yang kemudian disalurkan keseluruh tubuh kita.

Komplikasi yang paling serius adalah bila terjadi kerusakan yang ditimbulkan oleh racun bakteri difteri pada otot jantung miokardium, yang bisa terjadi pada hari ke 3 atau hari ke 7 setelah sakit, ini yang sering menimbulkan kematian pada penderita sakit difteri.

Tatalaksana Penyakit Difteri

Pengobatan Penyakit Difteri :

– Untuk kasus akut, biasanya diberikan anti-toksin dengan dosis antara 20.000 hingga 120.000 unit, tergantung derajat berat penyakit dan lama penyakit itu telah berlangsung, biasanya diberikan secara intravena atau intramuskular.

– Juga diberikan antibiotika golongan penisilin dan erithromisin, dengan tujuan untuk membasmi kuman C diphtheriae, sehingga nanti  tidak menjadi carrier atau pembawa kuman difteri dan tidak menularkan kepada orang sekitar lingkungannya. Karena 2 hingga 4 minggu mereka masih  mempunyai kemungkinan menularkan kuman difteri bila mereka tidak dioabati dengan antibiotika dengan baik.

Imunisasi aktif – dengan memakai Vaksin yang mengandung difteri toksoid sebagai vaksin anti Difteri

Sejarah perkembangan vaksin Difteri Toksoid:

Beberapa puluh tahun sebelumnya, orang memakai gabungan toksin-antitoksin difteri untuk melakukan imunisasi pasif untuk mencegah penyakit difteri, dan gabungan toksin-antitoksin ini memberikan angka keberhasilan hingga 85%, ini terjadi  di Amerika pada tahun 1914.

Kemudian Ramon mulai membuat difteri toksoid, yaitu dengan mencampurkan toksin difteri dengan sejumlah kecil formalin, untuk menghilangkan efek toksik dari toksin difteri ini, namun mempertahankan efek imunogeniknya untuk merangsang sistim pertahanan tubuh memproduksi antibody melawan kuman difteri, dan toksoid ini memberikan hasil yang baik dalam pencegahan penyakit difetri.

Pada tahun 1926, Glenny dkk menemukan bahwa difteri toksoid yang digabungkan dengan logam aluminium dan menjadi aluminium precipitated toksoid akan mempunyai  efek imunogenik yang jauh lebih baik daripada hanya toksoid saja, sehingga mulai saat itu hingga sekarang, maka vaksin anti difteri yang kita pakai adalah bentuk  aluminium precipitated difteri toksoid

Vaksin Kombinasi Bersama Difteri Toksoid

Sejak tahun 1940 an, maka mulai dibuat vaksin kombo, yaitu gabungan  antara vaksin difteri toksoid, dengan vaksin tetanus toksoid dan vaksin pertusis yang jenis sel utuh (whole cell), menjadi vaksin kombo pertama yang kita kenal didunia vaksinasi, yaitu vaksin DTwP yang masih kita pergunakan hingga saat ini.

Vaksin DTwP ini juga mengalami perkembangan lebih lanjut, karena sekarang vaksin kombo ini digabungkan dengan garam dari logam aluminium phosphate, yang memberikan efek imunogenik yang jauh lebih baik, sehingga dengan dosis kecil vaksin bisa mencapai efek yang dinginkan, yaitu meningkatkan kemampuan antigen vaksin untuk merangsang sistim pertahanan tubuh memproduksi antibody.

Titer antibody yang  dianggap adekuate untuk mencegah penyakit difteri (setelah medapat 3 dosis vaksin difteri toksoid) adalah :  > 0.01 IU / mL.

Jadwal pemberian vaksin difteri toksoid :

Yaitu mulai diberikan sejak bayi telah berusia 2 bulan, kamudian dosis ke2 pada saat usia mencapai 4 bulan dan dosis ke3 pada usia 6 bulan. Dosis ke 4 pada saat bayi telah berusia antara 15 – 18 bulan. Dosis terakhir, yaitu dosis ke5 diberikan saat anak mulai masuk sekolah sebelum berusia 7 tahun.

Bila dosis ke4 baru diberikan pada saat anak telah berusia 4 tahun atau lebih, maka dosis ke5 yang seharusnya diberikan saat anak sebelum berusia 7,  sudah tidak perlu diberikan lagi.

Perhatikan jarak interval antara suntikan dosis ke3 dan dosis ke4 harus berjarak minimal 6 bulan dari suntikan dosis ke3.

Perhatian:

Bagi mereka yang baru sembuh dari atau pernah menderita penyakit difteri, maka vaksinasi anti difteri lengkap tetap harus diberikan untuk melindungi dari infeksi yang akan datang. Karena pernah menderita penyakit difteri tidak  menjamin akan memberikan kekebalan tubuh terhadap  penyakit tersebut.

Vaccine Saves Lives !

tags: , , , , , , , , ,

Related For Difteri Toxoid – Seluk Beluk dan Perkembangannya