Cara Orang Membuat Vaksin – Sel Manusia Dipakai Untuk Pengembangan dan Pembuatan Vaksin

Sel Manusia Dipakai Untuk Pengembangan dan Pembuatan Vaksin

Sejak pertama kali  pabrik pembuat vaksin mulai membuat vaksin dengan mempergunakan virus cacar sapi pada akhir tahun 1880an, maka hewan atau binatang telah banyak dipergunakan untuk memproduksi vaksin untuk manusia. Semenjak itu, hingga pertengahan abad ke 20, hampir semua vaksin yang dikembangkan akan mempergunakan hewan, apakah dengan cara meng-kembang biakkan kuman patogen dalam hewan hidup atau dengan mempergunakan sel hewan.

Adalah tidak ideal, membuat vaksin dengan mempergunakan hewan, terutama dengan mmpergunakan hewan yang hidup, meskipun telah banyak vaksin dan anti toksin yang telah berhasil dikembangkan dan dibuat dengan cara demikian. Hewan untuk penelitian adalah mahal dan memerlukan pengawasan yang sangat ketat, baik untuk menjaga kesehatan hewan ini juga untuk mempertahankan kelangsungan penelitain pembuatan vaksin ini. Kemudian hewan hidup ini mungkin juga membawa atau mengandung bakteri atau virus yang sangat besar kemungkinan akan membuat kontaminasi atau pencemaran bahan pembuat vaksin, sebagai contoh adalah vaksin polio pada pertengahan abad ke 20, yang dibuat dari sel ginjal monyet hijau, ternyata kemudian ditemukan mengandung virus monyet SV40 (Simian Virus 40), dan untungnya adalah virus SV40 ini tidak berbahaya bagi manusia. Atau cerita lain seperti bahwa virus cacar air tidak bisa tumbuh dengan baik pada sel hewan, sehingga perlu dicarikan media pembiakan lain yang ideal untuk menumbuhkan virus cacar air ini.

Bahkan juga jika pembuatan vaksin hanya menggunakan produk bahan dari hewan bukan dengan hewan yang hidup, seperti pengembang biakan virus untuk vaksin influenza didalam telor ayam – pembuatan vaksin ini bisa tertunda atau terhambat bila ketersediaan telor ayam ini terganggu, misalnya terjadi penyakit yang akan mengganggu populasi ayam petelor, maka akan terjadi ganggu produksi dan suply telor ayam untuk pembuatan vaksin influenza, sehingga akan terjadi gangguan ketersediaan vaksin influneza musiman yang serius. Terdapat persepsi yang salah, bahwa vaksin influenza bisa diproduksi jauh lebih cepat bila virus antigen influenza itu ditumbuh kembangkan didalam bahan biakan sel daripada dikembang biakkan didalam embryo telor ayam. Faktanya adalah bahwa waktu yang diperlukan hampir sama antara kedua cara tersebut, hanya saja dengan biakan dalam sel, tidak ada masalah tentang ketersediaan bahan baku seperti telor ayam.

Untuk alasan ini ataupun alasan yang lain, membuat vaksin dengan menggunakan tehnik pembiakna dengan jaringan sel manusia merupakan suatu kemajuan yang berarti dalam perkembangan pembuatan vaksin.

Bagaimana Cara Kerja Jaringan Pembiakan Sel

Jaringan pembiakan sel adalah menumbuh kembangkan sel didalam cawan pembiakan, sering dengan media pertumbuhan seperti kolagen. Pembiakan sel yang pertama atau primer, diambil langsung dari jaringan yang hidup, sehingga bisa mengandung bermacam jenis sel, seperti jenis sel fibroblast, sel jaringan epitel, atau sel endothel, dan jenis sel yang lain.

Cell strain, adalah hasil biakan sel jaringan yang hanya terdiri dari satu jenis sel saja. Ini diperoleh dengan mengambil biakan jaringan sel awal mula atau primer tadi dan dikembang biakkan berkali-kali, hingga tinggal satu jenis sel yang kita inginkan. Atau bisa juga dengan cara mengisolasi berbagai macam jenis sel, hingga diperoleh satu jenis sel saja yang diinginkan ; yaitu dengan memutar biakan jaringan primer ini dengan alat  sentrifuse, yang bisa memisahkan sel yang berbobot kecil dari sel yang besar. Jika hanya sisa satu jenis sel yang diinginkan, maka ilmuwan bisa mengembangkannya menjadi cell line yang homogen, yang memungkinkan observasi dan pengendalian yang terus menerus, hal ini tidak mungkin dilakukan dengan biakan jaringan primer yang masih mengandung bermacam jenis sel.

Sedangkan Cell Line atau kelompok sel, yang dibatasi oleh patokan yang disebut Hayflick Limit, sebuah patokan yang diberi nama sesuai nama penemunya ilmuwan Leonard Hayflick. Menurut patokan Hayflick Limit adalah sebuah kelompok sel yang normal hanya akan berkembang biak sampai jumlah tertentu saja setelah itu kelompok sel ini akan berhenti berkembang. Namun, berlawanan dengan patokan Hayflick Limit ini, ada beberapa jenis kelompok sel yang bisa berkembang terus; ini disebabkan kelompok sel itu telah mengalami mutasi yang memungkinkan kelompok sel ini berkembang biak terus menerus dan tidak mati. Contohnya adalah kelomok sel “HeLa cell line“, yang diambil dari sel kanker leher rahim pada tahun 1950an dari seorang wanita yang bernama Henrietta Lacks.

Dengan mempergunakan sel jaringan (cell strain) dan kelompok sel (cell line), para ilmuwan bisa meng-kembang biakkan virus patogen didalam jaringan sel manusia jenis tertentu untuk melemahkan virus patogen ini (attenuated) – yaitu menghilangkan sifat patogen / keganasannya terhadap manusia. Sehingga dengan demikian nanti bila virus ini dipakai sebagai vaksin, maka virus ini tidak bisa tumbuh dengan baik didalam tubuh manusia. Ini bisa dilakukan dengan meng-kembang biakkan virus didalam jaringan sel manusia sebagai media pembiakan dengan temperature yang lebih rendah daripada suhu normal tubuh manusia. Virus ini akan tetap ber-tumbuh kembang dengan beradaptasi terhadap suhu rendah ini, akibatnya virus ini akan kehilangan kemampuan untuk berkembang dan tumbuh dengan baik didalam kondisi suhu normal tubuh manusia. Nanti bila virus ini dipakai sebagai antigen vaksin dan disuntikkan kedalam tubuh manusia yang bersuhu normal, maka virus ini hanya akan menimbulkan reaksi imunologi saja tanpa dapat menimbulkan penyakit seperti sebelumnya, karena virus ini sudah tidak bisa tumbuh dengan baik didalam tubuh manusia dengan suhu tubuh yang normal.

Dengan tehnik attenuasi ini, maka sekarang kita mengenal adanya vaksin yang antigennya masih hidup namun telah dilemahkan – live attenuated vaccine – vaksin demikian bila diberikan kepada manusia, tidak ada bahaya akan menimbulkan penyakit yang sama lagi, tetapi justru akan merangsang sistim kekebalan tubuh manusia untuk mulai membuat zat anti atau antibody untuk melawan jenis bibit penyakit atau virus tersebut dikemudian hari.

Juga salah satu keuntungan yang lain, karena antigen nya masih hidup hanya dilemahkan saja (live atteuated vaccin), maka justru efek kekebalan tubuh atau imunitasnya yang ditimbulkan vaksin demikian akan lebih panjang dan lama bila dibandingkan dengan vaksin yang antigen nya telah dimatikan (killed vaccine) dalam proses pembuatan vaksin tersebut.

Vaksin Yang dibuat dengan menggunakan Sel Manusia

Vaksin pertama yang dibuat dan dikembangkan dengan mempergunakan sel jaringan manusia adalah vaksin rubella (campak Jerman), yang dikembangkan oleh Prof. Stanley Plotkin di Wistar Institute di Philadelphia, Amerika. 

Prof. Stanley Plotkin, ahli vaksin modern

Prof. Stanley Plotkin, ahli vaksin modern
Source: Google free image

Sedikit sejarah tentang pembuatan vaksin rubella ini :

Pada tahun 1941, seorang dokter ahli mata Australia bernama Dr. Norman Gregg yang pertama memperhatikan bahwa katarak mata kongenital (bawaan) bayi sebagai akibat dari ibu yang telah mendapat infeksi rubella sewaktu kehamilan sedang berlangsung. Selain gejalah katarak mata, juga bayi bayi ini akan terlahir disertai kumpulan gejalah lain yang disebut congenital rubella syndrome (CRS), yang bisa menyebabkan gangguan pendengaran tuli, panyakit jantung bawaan, radang otak ensefalitis, gangguan keterbelakangan mental / retardasi mental dan infeksi paru pneumonia, dan beberapa kondisi gangguan kesehatan yang menyertainya.

Pada puncak berjangkitnya penyakit rubella di Eropa yang menyebar ke Amerika pada tahun 1960an, menurut perhitunagn Prof. Plotkin, sekitar 1% kelahiran di Rumah Sakit Umum Philadelphia bayinya menderita congenital rubella syndrome. Dalam beberapa kasus diatas, para ibu hamil yang terinfeksi dengan virus dan penyakit rubella ini memutuskan untuk menghentikan kehamilan mereka, dengan cara aborsi, untuk menghindari kemungkinan besar bayi mereka akan menderita CRS yang fatal ini.

Dengan sepengetahuan dan disetujui oleh orang tua pemilik janin yang telah diaborsi karena terkena infeksi  virus rubella, janin ini dikirim ke laboratorium milik Prof. Stanley Plotkin yang sedang mengadakan penelitian terhadap virus dan penyakit rubella. Dengan menggunakan jaringan sel ginjal janin ini, Plotkin berhasil mengisolasi virus rubella. Dalam penelitian yang lain, Leonard Hayflick (yang juga bekerja di Wistar Institute pada waktu itu) mengembangkan jaringan sel paru dari janin yang telah digugurkan tadi. Banyak jenis virus, termasuk virus rubella ini berkembang biak dengan baik didalam media jaringan sel manusia ini, dan terbukti hasil biakan virus ini terbebas dari kontaminasi atau bebas dari pencemaran. Dan jaringan sel janin manusia yang dipergunakan untuk pengembang biakkan virus rubella dan virus lainnya ini disebut jaringan sel WI-38

Prof. Plotkin mengembang biakkan virus rubella didalam jaringan sel manusia WI-38 dengan temperature 30 derajat Celsius, dan setelah mengembang biakkan virus itu sebanyak 25 kali dengan suhu rendah ini (berdasarkan pengalaman mengembang biakkan dan melemahkan virus polio), maka virus rubella ini sudah tidak mampu bertumbuh kembang normal untuk bisa menimbulkan penyakit pada manusia, tetapi masih mempunyai kemampuan untuk merangsang sistim imunologi tubuh manusia untuk  memproduksi zat antibody. Vaksin rubella ini masih dipergunakan sampai hari ini di Amerika dan seluruh dunia, sebagai bagian dari vaksin kombiansi MMR (Mumps Measles Rubella Vaccine)

Masalah Ethis Berhubungan Dengan Pembiakan Kuman dengan Jaringan Sel Manusia

Meskipun vaksin Rubella dari Plotkin telah dipergunakan lebih dari 30 tahun di Amerika, namun pada tahun 1960an terjadi kekuatiran bahwa vaksin yang diperoleh dengan membiakkan antigen bibit penyakit dalam jaringan sel manusia mungkin akan tercemar dengan kuman patogen yang lain, meskipun kekuatiran ini sama sekali tidak beralasan ilmiah sedikitpun, semua ini diawali dengan pengalaman pembuatan vaksin polio yang menggunakan jaringan sel binatang yang kemudian terbukti telah terjadi pencemaran dengan virus monyet SV40, yang meskipun terbuti tidak berbahaya bagi manusia, dan temuan pada vaksin polio ini yang mendorong para ilmuwan mulai membiakan antigen patogen dengan menggunakan jaringan sel manusia.

Vaksin rubella Plotkin ini mulai didaftarkan dan beredar di Eropa pada tahun 1970 dengan data klinik tentang keamanan dan efektifitas yang baik, dan pada tahun 1979, vaksin ini juga mulai terdaftar oleh US FDA dan beredar di Amerika Serikat. Pada tahun 2005, US CDC menyatakan bahwa penyakit rubella telah dieliminasi / dihilangkan di Amerika, meskipun demikian tetap ada bahaya bahwa penyakit rubella akan berjangkit karena kasus impor dari penduduk negara endemik yang bepergian ke Amerika, kasus dan kajadian yang sama dengan penyakit polio.

Kemudian juga ada kelompok agama yang berkepentingan dengan kasus aborsi janin yang jaringan sel janin tersebut dipergunakan sebagai jaringan sel manusia untuk mengembang biakkan antigen patogen untuk pembuatan vaksin.

Dengan bukti dan data klinik yang ada dan setelah melalui proses yang panjang, dimana bisa dibuktikan dengan fakta ilmiah dan ethika moral kepada National Catholic Bioethics Center dari Gereja Katholik, yang sangat keras menentang dan ketat dalam hal aborsi janin manusia , dimana dibuktikan bahwa jaringan sel janin ini diperoleh dari janin yang memang digugurkan dengan alasan medis untuk mencegah kasus CRS pada calon janin tersebut yang sebelumnya telah terinfeksi virus rubella dan telah meniggal dalam kandungan ibunya. Janin yang digugurkan dan jaringan nya dipergunakan untuk media pembiakan antigen vaksin patogen adalah sepengetahuan dan telah mendapat persetujuan orang tuanya. Dan jaringan sel ini telah berkembang biak terus hingga saat ini, sehingga jaringan sel manusia yang kita pergunakan sekarang ini sudah bukan sel pertama dari janin tersebut, maka cerita bahwa sekarang ilmuwan membuat vaksin dengan sengaja menggugurkan janin manusia itu adalah tidak benar sama sekali. Sejak ada sel janin WI-38 dan MRC-5 ini, kita sudah tidak memerlukan sel manusia lain lagi untuk membuat dan mengembangkan vaksin. Demikian juga dengan jaringan sel hewan monyet, saat ini sudah tidak ada lagi hewan yang dikorbankan untuk pembuatan vaksin.

Billa kita simpulkan dari cerita diatas, maka secara keseluruhan hanya terjadi dua kasus janin manusia yang keguguran dan tidak satupun yang dengan sengaja digugurkan untuk tujuan membuat dan mengembangkan vaksin.

Ada Berapa Jenis Jaringan Sel Manusia Untuk Pembuatan Vaksin ?

Saat ini telah dipergunakn 2 jenis jaringan sel manusia untuk membuat vaksin yang kita pakai. Kedua jaringan sel manusia itu diperoleh dan dikembangka pada tahun 1960an, yaitu sel WI-38 (sel ginjal janin) yang dikembangkan pada tahun 1961 di Amerika dan MRC-5 (sel paru janin) pada tahun 1965 dibuat di Inggris. Semenjak itu, tidak  diperlukan lagi sel jaringan manusia lain untuk membuat dan mengembangkan vaksin.

Billa kita simpulkan dari cerita diatas, maka secara keseluruhan hanya terjadi dua kasus janin manusia yang keguguran dan tidak satupun yang sengaja digugurkan untuk tujuan membuat dan mengembangkan vaksin.

Vaksin Yang Pembuatannya Mempergunakan Jaringan Sel Manusia:

Jenis vaksin yang disebutkan dibawah ini, dikembang dan dibuat dengan mempergunakan jaringan sel manusia WI-38 atau MRC-5, sebagai berikut: 

  • Vaksin Hepatitis A dan vaksin kombinasi hepaitis A
  • Vaksin Rubella dan vaksin kombinasi rubella
  • Vaksin Varicella (chickenpox) dan vaksin kombinasi varicella
  • Vaksin Zoster (herpes / shingles)
  • Vaksin Adenovirus Oral Type 4 and Type 7 (untuk prncegahan infeksi akut saluran pernafasan oleh adenovirus type 4 dan type 7)
  • Vaksin Rabies [IMOVAX/Sanofi Pasteur]

 

Vaksin Yang Pembuatannya Mempergunakan Jaringan Sel Hewan:

Beberapa jenis vaksin yang pembuatannya degan mempergunakan jaringan sel hewan, misalnya sel ginjal monyet hijau Afrika, seperti misalnya :

  • Vaksin Japanese Encephalitis
  • Vaksin Rotavirus (kedua jenis vaksin rotavirus yang beredar)
  • Vaksin Polio (vaksin polio oral/OPV dan vaksin polio injeksi / Inactivated Polio Vaccine – IPV)

Kesimpulan:

  1. Cara ideal untuk membuat dan mengembangkan vaksin adalah dengan mengembang biakkan antigen vaksin yang patogen didalam jaringan sel makhluk hidup, seperti sel jariingan manusia atau juga sel jaringan hewan
  2. Sel jaringan manusia yang kita pergunakan saat ini telah dikembangkan sejak tahun 1960an di Amrika dan Inggris, dengan mempergunakan sel jaringan dari 2 janin yang telah terinfeksi penyakit dan virus rubella dan telah meninggal didalam kandungan ibunya
  3. Sel jaringan manusia dan sel jaringan hewan yang dipakai saat ini telah dikembangbiakkan dalam jumlah yang banyak (cell bank), sudah bukan sel asli pertama dahulu, jadi proses pembuatan vaksin sekarang hanya mempergunakan jaringan sel yang telah dikembangkan tersebut dari cell bank
  4. Sejak tahun 1960an hingga saat ini, pembuatan vaksin tidak lagi mempergunakan sel hewan atau sel manusia selain yang disebutkan diatas

Vaccine Saves Lives !

 

tags: , , , , , , , , ,

Related For Cara Orang Membuat Vaksin – Sel Manusia Dipakai Untuk Pengembangan dan Pembuatan Vaksin